Selasa, 09 April 2013

Tips Aman Saat Memandikan Bayi


memandikan bayi yang amanWaktu mandi merupakan waktu yang menyenangkan, waktu spesial untuuk berbagi dengan bayi anda juga merupakan waktu untuk dapat benar-benar memberikan perhatian untuk bayi. Dan bagi bayi pun acara mandi adalah acara yang menyenangkan, bermain dengan cipratan air, buih dan gelembung.

Namun mandi perlu kehati-hatian, karena kecelakaan mungkin saja terjadi saat memandikan bayi. Oleh karena diperlukan pengetahuan atau cara agar acara mandi bentul-betul aman bagi bayi. Berikut adalah Tips Aman yang bisa ibu lakukan saat memandikan bayi:

  • Peraturan pertama dan yang paling penting ialah: Jangan sekali-kali meninggalkan bayi anda tanpa pengawasan saat mandi, walaupun hanya untuk satu menit. Anak-anak bisa tenggelam dalam kurang lebih satu inci air. Dan jika terdapat bunyi bel pintu atau telepon berdering, dan kamu merasa kamu harus menjawabnya, ambil bayimu dalam handuk dan bawa dia bersamamu. Selain itu sebelum memandikan bayi, pastikan semua perlengkapan mandi bayi sudah tersedia di kamar mandi, hal ini untuk menghindarkan anda pergi untuk mengambil perlengkapan bayi yang lupa di bawa.
  • Pastikan kamar mandi cukup hangat (min 25 derjat celcius). Jika tidak bayi dapat dengan cepat kedinginan.
  • Pahami cara memandikan bayi yang baik dan benar, agar air tidak sampai masuk baik ke mata, mulut atau telinga bayi.
  • Jangan letakkan bayi anda ke dalam bathtub atau bak mandi bayi apabila air itu masih mengalir (suhu air bisa berubah atau air bisa menjadi terlalu dalam).
  • Buatlah bathtub yang aman: bathtub biasanya amat licin, lengkapi dengan alaskaki karet untuk lebih menjaga keamanan. Juga, pastikan bahwa kaca pintu kamar mandi terbuat dari kaca yang aman. Selain itu bagi bayi yang sudah bisa berjalan, lantai kamar mandi juga bisa licin baginya, oleh karena itu pasanglah karpet khusus kamar mandi agar dia tidak terpelesat jatuh saat memasuki kamar mandi
  • Buat air mandi amat hangat dan nyaman (36-37 darajat celcius).
  • Isi tub atau bak mandi bayi dengan hanya 10 cm ketinggian air untuk bayi hingga berusia 6 bulan dan tidak lebih daripada setinggi pinggang (dalam posisi duduk) untuk anak-anak yang lebih tua.
  • Mengajarkan bayi anda untuk mandi dengan duduk (tidak berdiri) di dalam tub.
  • Sabun, sampo, dan buihnya dapat mengeringkan kulit bayimu dan bisa menyebabkan kusam, jadi gunakan itu kepada mereka dengan berhati-hati. Selain itu juga bisa menyebabkan iritasi uretra, yang seterusnya mungkin meningkatkan risiko terjangkitnya infeksi saluran kencing.
  • Jangan izinkan anak anda untuk menyentuh pegangan keran. Karena hal tersebut akan membuat luka serius jika bayi terjatuh dan menimpa keran air. Oleh karena itu jauhkan keran air saat memandikan bayi atau anda mungkin mencoba meletakkan bayi anda dalam tub membelakangi keran.
  • Jagaperalatan elektrik(seperti pengering rambut dan pengeriting rambut) jauh-jauh dari tub.

Posisi Benar Saat Menyusui

Posisi menyusui yang tepat merupakan elemen penting dalam keberhasilan menyusui. 
Posisi yang tepat akan menghasilkan pelekatan yang tepat. Anda dapat memilih posisi menyusui sambil duduk atau berbaring, manapun yang nyaman bagi Anda dan memudahkan bayi mencapai payudara.
Posisi yang benar didapat dengan cara:
- Bayi digendong diletakkan berhadapan, perut ibu menempel dengan perut bayi
- Pastikan kepala, lengan, dan bayi berada pada 1 garis lurus
- Lingkarkan kaki merapat ke badan ibu untuk mencegah hidung tertutup oleh payudara
- Dukung bayi, terutama badan dan bokong

Menyusui Bayi (Tips dan Hal-hal Yang Harus Diperhatikan)

menyusui bayiMenyusui bayi menurut para pakar selain berfungsi sebagai pemberian nutrisi, juga merupakan sebuah rahasia ikatan yang paling efektif antara ibu dan anak. Tentunya, setiap ibu ingin memiliki hubungan yang dekat dan akrab dengan bayinya. Ikatan yang kuat antara ibu dan anak ini kelak akan berpengaruh pada rasa percaya diri anak.
Namun, dalam pelaksanaannya, menyusui bagi sebagian ibu  merupakan sebuah proses yang kadang menimbulkan berbagai kendala. Mulai dari timbulnya rasa sakit pada payudara, lecet pada puting, bayi sering muntah, dan sebagainya. Berikut beberapa tips dan hal yang perlu diperhatikan selama dan sesudah proses menyusui
  1. Pada masa-masa awal menyusui, dianjurkan agar anda menyusui bayi anda sembari berbaring. Barulah setelah bayi anda agak besar, susuilah dia dengan sikap setengah duduk. Upayakan selama menyusui agar hidung bayi tidak tertutup oleh payudara anda. Pastikan pula bahwa puting payudara beserta bagian yang hitamnya seluruhnya masuk kedalam mulut bayi. Dengan demikian, akan lebih banyak air susu yang mengalir keluar dan puting susu pun tidak menjadi lecet.
  2. Setelah selesai menyusui, jangan menarik mulut bayi begitu saja. Akan tetapi, tekanlah sudut mulut bayi perlahan dengan jari-jari anda. Ini demi menjaga puting agar tidak lekas lecet.
  3. Pada bulan-bulan pertama menyusui, setelah menyusui bayi anda, ada baiknya bayi ditelungkupkan atau dimiringkan ke arah kanan. Ini dimaksudkan aga lambung bayi lebih cepat kosong. Karena bayi tidak akan menyusu sebelum ia merasa lapar.
  4. Pada saat bayi anda menyusui selalu saja ada sedikit udara yang masuk kedalam lambung bayi. Namun, kadang kala udara yang masuk ke lambung bayi itu lebih banyak dari biasanya. Hal ini membuat perut bayi kembung. Tatkala bayi mengalami hal demikian, maka ia serta merta akan berhenti menyusu dan tidak jarang didahukui dengan muntah-muntah.
  5. Bila hal ini terjadi, dudukanlah ia sambil mengusap-ngusap perutnya supaya udara di dalam perutnya segera keluar. Cara lain adalah dengan taruh kepala bayi anda diatas pundak anda (bayi menghadap kearah belakang) dan usap-usaplah punggungnya.
  6. Kadang-kadang bayi juga mengalami muntah-muntah kalau kekenyangan. Dalam hal ini, dudukanlah bayi untuk beberapa saat.
  7. Kerap terjadi pula baru menyusu beberapa menit saja, bayi anda sudah berhenti, walaupun kelihatannya ia masih merasa lapar. Itu biasanya terjadi akibat gigi bayi sudah tumbuh. Pada kasus seperti ini sering bayi tiba-tiba berhenti menyusu karena gusinya tertekan dan menimbulkan rasa sakit. Untuk itu, air susu sebaiknya diperas saja lalu diminumkan kepada bayi anda lewat sendok atau mangkuk.
  8. Apabila sehabis menyusu bayi anda selalu menangis, kemungkinannya adalah jumlah air susu yang keluar tidak memadai. Komsultasikan hal ini segera ke dokter anda. Jangan lupa bawa pula bayi anda untuk anda periksakan kesehatannya.
  9. Salah satu cara terbaik untuk menjamin pengeluaran air susu ibu (ASI) adalah mengupayakan agar setiap kali menyusui bayi anda, air susu yang ada dikeluarkan seluruhnya, hingga payudara anda menjadi benar-benar kosong. Karena pengosongan payudara tadi pada gilirannya akan merangsang kelenjar-kelenjar payudara memproduksi lebih banyak lagi air susu.
  10. Apabila setelah bayi menyusu, payudara anda masih belum kosong, pengosongan dapat dilakukan dengan jalan memompa atau mengurutnya.

Cara Menyusui Yang Benar

1. Tetekkan bayi segera atau selambatnya setengah janin setelah bayi lahir. Mintalah kepada bidan
     untuk membantu melakukan hal ini.
2. Biasakan mencuci tangan dengan sabun setiap kali sebelum menetekkan.
3. Perah sedikit kolostrum atau ASI dan oleskan pada daerah putting dan sekitarnya.
4. Ibu duduk atau tiduran / berbaring dengan santai.
5. Bayi diletakkan menghadap ke ibu dengan posisi:
    - Perut bayi menempel keperut ibu.
    - Dagu bayi menempel ke payudara.
    - Telinga dan lengan bayi berada dalam satu garis lurus.
    - Mulut bayi terbuka lebar menutupi daerah gelap sekitar putting susu.
6. Cara agar mulut bayi terbuka adalah dengan menyentuhkan puting susu pada bibir atau pipi bayi.
7. Setelah mulut bayi terbuka lebar, segera masukkan puting dan sebagian besar lingkaran/daerah
     gelap sekitar puting susu ke dalam mulut bayi.
8. Berikan ASI dari satu payudara sampai kosong sebelum pindah ke payudara lainnya.
Pemberian ASI berikutnya mulai dari payudara yang belum kosong tadi.


Cara Melepaskan Puting Susu dari Mulut Bayi

Dengan menekan dagu bayi ke arah bawah atau dengan memasukkan jari ibu antara mulut bayi dan payudara ibu.

Cara Memeras ASI dengan Tangan

Bidan menganjurkan pada Ibu untuk mencuci tangan terlebih dahulu. Setelah itu :
1. Duduklah Ibu seenak/senyaman mungkin.
2. Pegang/letakkan cangkir dekat dengan payudara Ibu.
3. Letakkan ibu jari pada payudara diatas puting susu dan areola (bagian lingkaran hitam berwarna
      gelap pada payudara) dan jari telunjuk dibawah payudara, juga dibawah puting susu dan areola.
4. Tekan ibu jari dan telunjuk kedalam, kearah dada. Ibu tidak perlu menekan terlalu keras, karena
     dapat menghambat aliran air susu.
5. Kemudian tekanlah payudara Ibu kebelakang puting dan areola antara jari telunjuk dan ibu jari.
6. Selanjutnya tekan dan lepaskan, tekan dan lepaskan.
    Kegiatan ini tidak boleh menyakiti atau Ibu sampai merasa nyeri.
    Pada awalnya, mungkin tidak ada susu yang keluar, tetapi setelah dilakukan penekanan beberapa kali, ASI akan     mulai menetes keluar.
7. Tekan areola dengan cara yang sama dari arah samping, untuk meyakinkan bahwa ASI di tekan dari
      seluruh bagian payudara.
8. Hindari menggosok-gosok payudara atau memelintir puting susu.
9. Peras satu payudara sekurang-kurangnya 3-5 menit hingga aliran menjadi pelan; kemudian
     lakukan pada payudara yang satu lagi dengan cara yang sama. Kemudian ulangi keduanya. Ibu       dapat menggunakan satu tangan untuk satu payudara dan gantilah bila merasa lelah. Memeras ASI membutuhkan waktu 20-30 menit. Terutama pada hari-hari pertama, ketika masih sedikit ASI yang diproduksi.
10. Simpan.

Dasar-Dasar Menyusui Bayi


vitamin mineral bayi

        Kebutuhan vitamin untuk bayi seringkali menjadi topik yang membingungkan. Kalau Anda bertanya apakah bayi Anda memerlukan vitamin atau tidak, tentu saja jawabannya adalah ya. Bayi Anda memerlukan vitamin untuk dapat tumbuh dengan baik dan sehat. Dia memerlukannya agar bisa mempunyai tulang yang kuat, gigi yang sehat dan juga untuk “membangun” darahnya sehingga terhindar dari Anemia.
Nah, hampir seluruh bayi memperoleh seluruh vitamin dan mineral yang diperlukan (seperti vitamin A, kalsium, zat besi, dll) melalui asupan makanan yang mereka konsumsi. Jadi, walaupun bayi Anda memang benar memerlukan vitamin dan mineral, namun mereka sebenarnya tidak memerlukan suplemen setiap hari, kecuali jika ia terlahir prematur atau memiliki masalah kesehatan tertentu.

Sekilas tentang Vitamin dan Mineral

        Banyak orang tua yang menganggap bahwa vitamin akan terpenuhi secara lengkap hanya dengan mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan. Pendapat ini tidak tepat. Sebenarnya, sayuran dan buah-buahan hanya mengandung sebagian jenis vitamin, seperti vitamin C, E, K dan sebagian jenis vitamin B.
Untuk vitamin A, B6, B12 dan D, biasanya dapat diperoleh melalui sumber hewani seperti hati, susu, serta berbagai produk olahannya.
Sedangkan mineral yang diperlukan oleh tubuh bisa diperoleh dari bahan makanan seperti garam, ikan, udang, cumi, serta susu dan produk olahannya.

Bayi yang Baru Lahir

        Untuk bayi yang baru lahir, seluruh kebutuhan vitamin dan mineralnya akan terpenuhi melalui ASI. jadi, jika Anda ingin bayi Anda memperoleh cukup asupan vitamin dan mineral, Anda cukup meningkatkan kualitas ASI Anda, dengan cara makan dengan cukup dan seimbang komposisinya. Jika diperlukan, dengan arahan dokter Anda bisa saja mengkonsumsi vitamin tambahan.

Bagaimana Menentukan Apakah Bayi Anda Memerlukan Suplemen atau Tidak?

        Sebenarnya semuanya tergantung kondisi bayi yang bersangkutan – apakah ia menerima ASI atau susu formula sejak lahir, apakah ia lahir dalam kondisi normal atau prematur, apakah ia memiliki kelainan kesehatan, dan sebagainya.
Jika bayi Anda lahir prematur atau memiliki masalah kesehatan tertentu, silahkan konsultasikan dengan dokter anak Anda apakah ia memerlukan suplemen tertentu atau tidak. Nanti, ketika ia semakin besar dan mulai mengkonsumsi lebih banyak jenis makanan, dokter biasanya akan mengevaluasi lebih lanjut apakah ia masih memerlukan suplemen.
Untuk bayi yang sehat dan dalam masa pemberian ASI Eksklusif, masih banyak perdebatan mengenai perlu atau tidaknya memberikan suplemen. Sebagian besar mengatakan sama sekali tidak perlu. Sebagian ahli kesehatan mengatakan, seandainya pun perlu, paling-paling Anda hanya cukup memberikan suplemen vitamin D – 400 IU setiap harinya, dengan alasan si bayi tidak memperoleh asupan vitamin D yang cukup melalui ASI.
Menurut mereka yang berpendapat perlunya tambahan vitamin D untuk bayi yang sedang dalam program ASI Eksklusif, hal ini berbeda dengan bayi yang sejak awal mengkonsumsi susu formula. Ia tidak lagi memerlukan tambahan vitamin D, karena biasanya unsur ini sudah terkandung dalam susu formula.

Kesimpulan

        Pada dasarnya, hingga usia 6 bulan, bayi yang menerima ASI Eksklusif tidak memerlukan suplemen. Yang perlu diperhatikan justru pola makan sang ibu. Pastikan ibu yang menyusui mengkonsumsi makanan yang mengandung cukup vitamin B12 (untuk mencegah Anemia pada anak), zat besi (juga berkaitan dengan Anemia), seng, serta kalsium. Seandainya pun diperlukan, maka sang ibu bisa saja mengkonsumsi suplemen multivitamin-mineral. Tentu saja dengan arahan dokter.
Setelah usia 6 bulan, jika bayi Anda tidak mengalami kesulitan memakan berbagai jenis makanan dengan jumlah yang cukup untuk usianya, maka suplemen vitamin tidak diperlukan. Suplemen baru menjadi alternatif ketika si kecil benar-benar susah makan atau memiliki masalah kesehatan yang kronis. Silahkan konsultasikan dengan dokter anak Anda.
Hati-hati, jangan mengkonsumsi suplemen multivitamin-mineral tanpa arahan dokter, karena bisa jadi bayi Anda menerima kelebihan vitamin A dan seng (zinc)…

Sumber : http://www.tipsbayi.com/vitamin-dan-mineral-untuk-bayi.html

Tips Membeli Perlengkapan Bayi Guna Menyongsong Si Kecil

Perlengkapan bayi merupakan salah satu dari banyak hal yang perlu anda siapkan menjelang kelahiran bayi anda.memiliki bayi merupakan hal  yang paling ditunggu-tunggu oleh hampir semua pasangan suami istri dan ketika hari kelahiran bayi tersebut sudah dekat, maka inilah saat-saat yang mendebarkan sekaligus membuat pasangan suami istri menjadi tidak sabar menanti. Mungkin banyak dari anda dan pasangan anda belum tahu tentang apa saja yang harus anda persiapkan untuk menyambut kehadiran buah hati anda di dunia karena mungkin ini adalah kali pertama bagi anda dan pasangan anda memiliki momongan. Agar anda lebih siap dalam menyambut buah hati anda, maka ada beberapa hal yang perlu anda persiapkan dan salah satunya adalah menyiapkan perlengkapan yang akan digunakan oleh bayi anda nanti setelah lahir.

Persiapan sejak masa-masa akhir kehamilan

Karena bayi adalah anggota baru dalam keluarga anda, maka persiapan yang perlu anda lakukan juga harus dari awal., nama, seperti kamar, perlengkapan bayi, serta masih banyak lagi yang perlu anda siapkan. Biasanya, persiapan untuk bayi akan dilakukan saat trimester terakhir dari sebuah kehamilan, karena pada saat-saat ini jenis kelamin bayi yang sedang anda kandung sudah dapat diketahui, baik itu laki-laki maupun perempuan, sehingga perlengkapan yang nantinya akan dibeli dapat disesuaikan dengan jenis kelaminnya. Untuk perlengkapan yang akan digunakan oleh bayi anda nantinya, anda juga harus mengetahui apa-apa saja yang perlu anda beli dan apa saja yang tidak perlu.

Sesuaikan dengan kebutuhan

Untuk perlengkapan yang paling mendasar dan diperlukan oleh bayi tentunya adalah pakaian. Pada awal masa kelahirannya, bayi hanya akan menggunakan popok karena intensitas buang air kecil dan buang air besarnya yang masih cukup sering. Anda juga perlu membeli popok dalam jumlah yang lebih banyak, setidaknya dua lusin, untuk mengantisipasi resiko kehabisan popok terutama pada musim penghujan.Kemudian, anda perlu juga membeli baju, baik itu lengan panjang, lengan pendek, atau tanpa lengan. Untuk baju bayi, sebaiknya anda tidak perlu membelinya dalam jumlah yang banyak karena bayi akan cepat sekali tumbuh dan penggunaannyapun tidak akan sesering popok.
Perlengkapan bayi yang perlu anda persiapkan selanjutnya adalah bedong flannel, karena fungsinya hanya untuk menghangatkan bayi dan bukan untuk meluruskan kaki bayi.Lalu kaos tangan untuk mengantisipasi kuku bayi yang belum dipotong menggores mukanya, gendongan bayi baik gendongan instan maupun gendongan kain panjang. Anda juga pasti akan memerlukan perlak agar air kencing bayi tidak tembus ke kasur anda. perlak dapat anda beli juga dalam bentuk meteran jika anda ingin tetap dapat menggunakannya hingga bayi anda besar. Yang tidak kalah penting lagi ialah kojong atau kelambu yang berfungsi melindungi bayi dari nyamuk dan serangga jenis lain terutama saat bayi sedang tidur. Selanjutnya, anda perlu untuk mempersiapkan perlengkapan mandi untuk bayi anda seperti handuk, waslap, ember, sabun, dan shampoo.

Yang tidak perlu disiapkan

Namun, ada pula beberapa perlengkapan yang biasanya disiapkan untuk bayi namun dengan alasan kesehatan ternyata tidak perlu anda persiapkan antara lain adalah gurita, bedak, dot, dan sit baby walker. Mengingat begitu banyak perlengkapan untuk bayi anda yang harus anda siapkan, anda tidak perlu membelinya dalam satu waktu.Anda dapat melakukannya secara bertahap sehingga anda tidak kaget dengan budget yang anda keluarkan untuk membeli seluruh perlengkapan bayi anda dalam satu waktu.

Jumat, 30 Desember 2011

Mitos Seputar bayi


"Jangan terlalu lama menggendong bayi, nanti bau tangan." Pernahkah Anda mendengar ucapan tersebut? Jika iya, perkataan itu hanyalah sebuah mitos.

Ketika menjadi ibu baru, Anda tentu kerap dibuat bingung dengan larangan atau imbauan yang disampaikan orang lain. Benarkah saran dari mereka? Haruskah diikuti? Jangan-jangan cuma mitos, itulah yang mungkin ada di pikiran Anda.

Agar tidak bingung lagi, berikut ini lima mitos tentang bayi yang salah dan apa fakta sebenarnya:

Mitos 1: Jika terlalu lama digendong, bayi akan bau tangan dan ingin digendong terus

Fakta: Bidan di Ontario, Kanada, Karin Terpsta mengatakan kenyataan yang ada justru berbeda jauh dari mitos di atas. "Merespon bayi dengan cepat justru bisa membuat bayi jadi tidak kesal dan lebih mudah menenangkannya jika dia menangis," tambah Terpsta.

Dokter anak asal Kanada, Denis Leduc menambahkan, di beberapa negara ada ibu yang menggendong bayi mereka seharian dan itu tidak menimbulkan efek apapun. Menurut Leduc, menggendong bayi tidak akan menyebabkan apapun kecuali ibu dan bayi menjadi lebih dekat dan menguatkan ikatan mereka.

Mitos 2: Bayi akan tidur nyenyak setelah usia tiga bulan

Fakta: Sampai usia tiga bulan, bayi belum bisa benar-benar tidur nyenyak selama delapan jam. "Bisa tidur nyenyak di malam hari adalah bagian dari proses perkembangan bayi," ujar Leduc. Dijelaskannya, selama 1-3 bulan, dalam waktu 24 jam bayi akan tidur 16-20 jam. Namun waktu tidur yang cukup lama itu akan dibagi-baginya. Misalnya saja, bayi akan tidur selama tiga jam lalu bangun untuk tiga jam berikutnya.

Baru pada usia 4-6 bulan, bayi mulai bisa mengetahui perbedaan siang dan malam. Pada saat itu mereka pun bisa tidur lebih lama di malam hari, sekitar lebih dari enam jam atau lebih. Baru pada usia sembilan bulan, 70-80% bayi bisa tidur dengan nyenyak di malam hari.

Mitos 3: Bayi yang diberi makanan padat lebih cepat (usia 3-4 bulan) biasanya akan tidur lebih lama dan tidak cepat lapar di malam hari.

Fakta: "Mitos itu benar-benar salah," ujar Terpsta. "Justru, memberikan bayi makanan padat sebelum enam bulan bisa membuat pencernaannya terganggu karena sebenarnya belum siap," tambahnya.

Sementara menurut Leduce, ginjal bayi sebenarnya belum siap menerima apapun selain ASI sebelum enam bulan. Bukan hanya itu, dengan memberikan makanan sebelum enam bulan, bayi berisiko mengalami obesitas.

Mitos 4: Bayi yang baru lahir tidak bisa melihat ibu dengan jelas, hanya berupa bayangan.

Fakta: Sejak baru lahir bayi langsung bisa melihat dengan fokus dalam jarak pandang 20-30 cm. Pada minggu pertama kelahirannya, bayi biasanya akan memberikan respon pada gerakan dan fokus pada wajah ibu, yang memang sering ada di dekatnya. Jika bayi mulai tersenyum, artinya dia sudah mengenali ibunya.

Mitos 5: Menangis bagus untuk perkembangan paru-paru bayi, jadi jangan buru-buru menggendongnya saat dia mulai menangis.

Fakta: "Kebutuhan emosi bayi harus direspon," ujar Leduc. "Semakin ibu sering memberikan respon atas emosinya di tiga bulan pertama hidupnya, bayi akan merasa semakin aman dan nyaman," tambahnya.